Artikel Terbaru:

    Tampilkan postingan dengan label Kimia. Tampilkan semua postingan
    Tampilkan postingan dengan label Kimia. Tampilkan semua postingan

    persamaan arrhenius

    PERSAMAAN ARRHENIUS DAN ENERGI AKTIVASI


    PERSAMAAN ARRHENIUS DAN ENERGI AKTIVASI
    A.     TUJUAN
    1. Memperlihatkan bagaimana ketergantungan konstanta laju reaksi pada suhu
    2. Menghitung energi aktivasi (Ea) dengan menggunakan persamaan Arhenius.
    B.     ALAT DAN BAHAN
    Alat :                                             
                     
    Dup(1)Sil(086)


    Tabung reaksi, Rak tabung reaksi, Gelas kimia 1 L, 250 ml dan 100 ml, Thermometer, Pipet takar, Spritus, Kassa dan Kaki tiga, Bola semprot, Bola hisap dan Penjepit.
     
     

    Bahan :
    Larutan Na2S2O8 0,04 M, Larutan KI 0,1 M, Larutan Na2S2O3 0,001 M, Aquades dan Larutan kanji.
     
    Dup(1)Sil(078)      Dup(1)Sil(081)
    C.     CARA KERJA
    Dup(1)Sil(079)                        Dup(1)Sil(084) Dup(1)Sil(085)






    Buatlah kondisi suhu yang sama pada tabung 1 dan 2 (0 - 40oC). Catat suhu sebagai suhu awal.
     

    Masukan campuran zat ke dalam tabung 1 dan 2
     

     

                                                


     

    Tuangkan segera campuran zat pada tabung 1 dan 2 ke dalam gelas kimia 250 ml, jalankan stopwatch sampai larutan menjadi biru. Catat suhu sebagai suhu akhir.
     
    Dup(1)Sil(083)
    D.    HASIL PENGAMATAN DAN GRAFIK
    Suhu awal
    Suhu
    akhir
    Suhu rata-rata
    Waktu reaksi
    (sekon)
    T (oK)
    1/T
    ln 1/t (s)
    8oC
    20oC
    14oC
    9,12
    287
    0,00348
    -2,21
    10oC
    22oC
    16oC
    7,45
    289
    0,00346
    -2,01
    15oC
    23oC
    19oC
    5,11
    292
    0,00343
    -1,63
    17oC
    24oC
    20,5oC
    4,09
    293,5
    0,00341
    -1,41
    20oC
    24oC
    22oC
    3,08
    295
    0,00338
    -1,12
    E. PERHITUNGAN
    Nilai Ea  dapat ditentukan dari slope pada kurva ln 1/t vs 1/T yaitu:
    Slope (tan) = -
    Slope = -14851
    - Ea / R = -14851
    Ea = 14851 x R
         = 14851 x 8.314 JK-1mol-1
         = 123471,214 JK-1mol-1
               = 123,47 kJ K-1 mol-1
    E.     PEMBAHASAN
    Percobaan kali ini mengenai Persamaan Arhenius dan Energi aktivasi, dimana tujuan
    dari percobaan ini adalah untuk memperlihatkan bagaimana ketergantungan konstanta laju reaksi pada suhu dan menghitung energi aktivasi dengan menggunakan persamaan Arhenius. Energi aktivasi merupakan energi minimum yang digunakan untuk bereaksi.
    Salah satu faktor yang mempengaruhi laju reaksi yaitu suhu/temperatur. Pada prinsipnya semakin tinggi suhu  maka makin cepat laju reaksinya. Dari percobaan yang kita lakukan dapat dilihat bahwa semakin tinggi suhu semakin cepat laju reaksi. Untuk mendapatkan nilai Ea nya dibuat grafik hubungan ln 1/t vs 1/T . Dari grafik dapat dicari nilai Eanya.
    Melalui persamaan Arrhenius
    k          = A e
    ln k       = ln A -
    ln k       = -  + ln A
    Dari persamaan di atas dapat dibuat kurva ln k vs 1/T. Reaksi ini dianggap reaksi orde satu dengan persamaan reaksinya:
    A         =   A0 e –kt
    ln A      =   ln A0 – kt
    kt         =   ln A0 – ln A
    kt         =   ln
    k          =   ln
    jadi,
    k  
    Dari persamaan di atas maka ln k dapat diganti dengan 1/t.
    Pada percobaan molekul dapat bereaksi jika energi minimal yang dibutuhkan untuk bereaksi cukup/tercapai (Ea). Laju reaksi akan bertambah bila suhu dinaikkan karena energi kinetik dan frekuensi tumbukan molekul bereaksi makin besar. Dalam percobaan ini digunakan 2 tabung yang komposisinya berbeda yaitu tabung pertama berisi Na2S2O8 5       ml dan aquades 5 ml, sedangkan pada tabung 2 berisi Na2S2O3 1 ml, KI 10 ml dan kanji 1 ml, dimana awalnya kedua tabung ini kita atur suhunya dengan merendamnya kedalam gelas kimia berukuran 600 ml yang diisi dengan batu es. Larutan tersebut diatur pada berbagai variasi suhu yakni 100c, 150c, 200c dan 250c.
    Tabung I dan tabung II diatur suhunya hingga sama, kemudian dengan cepat tabung tersebut dicampurkan kedalam gelas kimia dan kita hitung waktu yang dibutuhkan untuk membentuk komplek biru setelah itu baru kita tentukan suhu akhir dari larutan. Setelah larutan pada kedua tabung dicampurkan terbentuk warna biru akibat adanya adsorpsi iodin pada permukaan amylosa yang berasal dari larutan kanji sedangkan iodin dihasilkan dari reaksi antara ion Iodida ( I- ) dengan ion tiosulfat. Fungsi kanji disini adalah sebagai larutan indikator yang menunjukkan apakah I2 sudah terbentuk atau belum.
                Dari data yang kita dapatkan menunjukkan bahwa semakin tinggi suhu maka waktu reaksi juga makin cepat. Hal ini disebabkan suhu yang tinggi akan memnyebabkan gerakan partikel reaksi juga makin cepat sehingga tumbukan antar partikel semakin banyak. Fakta lain yang kita dapatkan adalah laju reaksi berbanding lurus dengan persatuan waktu.
    G. KESIMPULAN
    Dari percobaan yang dilakukan dapat disimpulkan yaitu:
    1. Semakin tinggi suhu, maka laju reaksi makin cepat
    2. Konstanta laju reaksi bergantung pada suhu reaksi
    3. Energi aktivasi adalah energi minimum yang diperlukan suatu reaksi untuk memulai reaksinya.
    4. Energi aktivasi dapat ditentukan dari persamaan Arrhenius dengan membuat kurva hubungan ln 1/t vs 1/T
    Dimana,            ln k       =  - +ln A
                            Slope   = -
                            Ea        = -R x slope
    1. Reaksi pada percobaan kali ini merupakan reaksi heterogen, dibuktikan dengan nilai Ea yang kecil. Suhu yang digunakan tidak boleh lebih dari 400C karena akan menimbulkan kekeliruan
    2. Fungsi dari Na2S2O8 bertindak sebagai zat pengoksidasi I- menjadi I2. KI sebagai penyedia ion Iodida dan Na2S2O3 sebagai pereduksi I2 menjadi I-.
    JAWABAN PERTANYAAN
    1. Bila reaksi diatas dilakukan pada suhu di atas 400C ternyata akan menimbulkan penyimpangan dari persamaan Arrhenius. Penyimpangan ini disebabkan karena dua reaksi yang terlibat dalam reaksi yang sama pada temperatur yang lebih tinggi dari 400C akan mempunyai nilai energi aktivasi (Ea) yang berbeda.
    1. A ditentukan dari persamaan Arrhenius:
      = - , diintegralkan
    ln    =
    k          = A e
    A         =
    DAFTAR PUSTAKA
    Alberty, Robert A dan Famington Daniels. 1981. Kimia Fisika. Jakarta : Erlangga
    Bird, Tony. 1987. Kimia Fisika. Jakarta : Gramedia
    Irmamon, dan Hardeli. 1999. Kimia Fisika II. Padang : UNP
    Tim Kimia Fisika. 2011. Penuntun Pratikum Kimia Fisika 2. Padang : UNP

    Persamaan Laju Reaksi

    Persamaan Laju Reaksi dan Orde Reaksi

    Pada umumnya hubungan antara laju reaksi dengan konsentrasi zat-zat pereaksi hanya diturunkan dari data eksperimen. Bilangan pangkat yang menyatakan hubungan konsentrasi zat pereaksi dengan laju reaksi disebut orde reaksi.
    r = laju reaksi
    k = tetapan laju reaksi
    [A] = konsentrasi zat A dalam mol per liter
    [B] = konsentrasi zat B dalam mol per liter
    m = orde reaksi terhadap zat A
    n = orde reaksi terhadap zat B
    Beberapa contoh reaksi dan rumus laju reaksi yang diperoleh dari hasil eksperimen dapat dilihat pada Tabel berikut:
    Tabel : Contoh beberapa reaksi dan rumus laju reaksinya
    Orde reaksi dapat ditentukan dari persamaan laju reaksi. Misalnya, pada reaksi
    dengan persamaan laju reaksi
    orde reaksi terhadap H2 = orde satu, orde reaksi terhadap NO = orde dua, dan orde reaksi total adalah tiga. Untuk lebih memahami cara menentukan orde reaksi dan rumus laju reaksi Orde reaksi dapat juga ditentukan melalui kecenderungan dari data suatu percobaan yang digambarkan dengan grafik. Berikut ini dijelaskan penentuan orde reaksi melalui grafik.
    1. Grafik Orde Nol
    Laju reaksi tidak dipengaruhi oleh besarnya konsentrasi pereaksi. Persamaan laju reaksinya ditulis:
    Bilangan dipangkatkan nol sama dengan satu sehingga persamaan laju reaksi menjadi: r » k. Jadi, reaksi dengan laju tetap mempunyai orde reaksi nol. Grafiknya digambarkan seperti Grafik diatas.
    2. Grafik Orde Satu

    Gambar 4.9 Hubungan kecepatan dengan konsentrasi
    Untuk orde satu, persamaan laju reaksi adalah :

    Persamaan reaksi orde satu merupakan persamaan linier berarti laju reaksi berbanding lurus terhadap konsentrasinya pereaksinya. Jika konsentrasi pereaksinya dinaikkan misalnya 4 kali, maka laju reaksi akan menjadi 41 atau 4 kali lebih besar.
    3. Grafik Orde Dua
    Gambar 4.10 Hubungan konsentrasi dengan waktu
    Persamaan laju reaksi untuk reaksi orde dua adalah:
    Apabila suatu reaksi berorde dua terhadap suatu pereaksi berarti laju reaksi itu berubah secara kuadrat terhadap perubahan konsentrasinya. Apabila konsentrasi zat A dinaikkan misalnya 2 kali, maka laju reaksi akan menjadi 22 atau 4 kali lebih besar.
     

    Customer Service

    Support : persamaan.com | Perbedaan | Sama dengan
    Copyright © 2011. Persamaan - All Rights Reserved
    Template Created by Creating Website Published by jersey
    Proudly powered by Jadwal.co